Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia

a

Anda pasti sudah tidak asing dengan istilah bank syariah, bukan? Ya, sistem perbankan syariah memang sangat berbeda dengan bank pada umumnya. Salah satu hal yang paling membedakan adalah tidak adanya sistem bunga pinjaman. Sesuai dengan namanya, bank ini menerapkan sistem perbankan yang berdasarkan hukum-hukum islam atau sering disebut syariah islam.

Jadi, bunga pinjaman ditiadakan karena dianggap riba yang dilarang oleh agama islam. Perkembangan bank syariah meningkat setiap tahunnya. Hal ini karena mayoritas penduduk di Indonesia menganut agama islam. Tentu, sebagian muslim lebih memilih bank ini dibandingkan bank lainnya karena lebih terjamin kehalalannya. Sebelum membahas lebih jauh mengenai bagaimana bank ini berjalan, tidak ada salahnya menyimak sekilas sejarah berdirinya sistem bank syariah di Indonesia.

Pada tahun 1990, MUI berinisiatif untuk membangun sebuah bank Islam di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam. MUI langsung membentuk kelompok kerja untuk mewujudkan hal tersebut. Tak butuh waktu lama, dalam kurun waktu 1 tahun, MUI berhasil mendirikan sebuah perbankan syariah pertama di Indonesia yang diberi nama Bank Muamalat. Bank Muamalat lahir sebagai hasil kerja sama MUI dengan berbagai pihak seperti pemerintah, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan pengusaha muslim.

Keunikan Bank Muamalat dibanding bank lain yang telah ada sebelumnya adalah tidak adanya sistem bunga pinjaman. Sistem ini diganti dengan sistem bagi hasil yang sesuai dengan syariah islam. Bank syariah tersebut kian lama kian berkembang pesat. Tercatat, hingga saat ini, Indonesia memiliki 90 bank perkreditan rakyat syariah (BPRS), 3 Bank Umum Syariah (BUS) dan 17 unit usaha syariah (UUS).

Skema Perbankan Syariah yang Diterapkan di Indonesia

1. Penyaluran Dana

A. Mudharabah

Sistem perbankan syariah yang disebut dengan istilah mudharabah berupa kesepakatan antara pihak bank dan anggotanya dalam bentuk bagi hasil. Anggota bank yang membutuhkan investasi atau modal bisa menggunakan sistem ini. Pihak bank akan menanggung semua kebutuhan modal usaha atau investasi dengan bayaran bagi hasil yang telah disepakati sebelumnya.

B. Musyarakah

Sistem perbankan syariah yang satu ini berupa hal yang sama seperti sistem mudharabah yaitu kesepakatan antara pihak bank dan anggota dalam bentuk bagi hasil. Bedanya adalah pihak bank tidak akan menanggung semua kebutuhan modal usaha atau investasi yang diminta oleh anggota. Pihak bank syariah hanya akan menanggung kebutuhan sebesar 70% hingga 80% saja.

C. Murabahah

Sistem murabahan pada perbankan syariah berupa kesepakatan jual beli antara nasabah dengan pihak bank syariah. Pihak bank akan membeli barang kebutuhan nasabah dan menjual barang tersebut kepada nasabah beserta dengan marginnya. Harga jual barang tersebut ditentukan dari margin dan pokok pembiayaan. Nasabah hanya perlu membeli barang tersebut dengan cara mencicil setiap bulannya hingga tercapai jangka waktu yang disepakati dengan pihak bank. Harga jual yang telah disepakati bersifat tetap, sehingga nasabah hanya mencicil besar iuran yang sama setiap bulannya tanpa perlu takut terkena bunga. Di Indonesia sendiri, hampir 70% bank syariah menggunakan sistem murabahah tersebut.

D. Istishna

Sistem ini hampir mirip dengan sistem murabahah yaitu kesepakatan jual beli antara nasabah dengan pihak bank syariah. Bedanya, barang yang hendak dibeli oleh nasabah masih dalam proses pembuatan. Umumnya, sistem ini digunakan untuk pembiayaan konstruksi seperti rumah, toko, sekolah, dan lain sebagainya.

E. Ijarah

Sistem ini berupa kesepakatan sewa antara nasabah dengan pihak bank syariah. Pihak bank akan membiayai kebutuhan jasa suatu barang yang kemudian disewakan kepada pihak nasabah dengan cara mencicil setiap bulannya. Besar iuran yang harus dicicil setiap bulan tergantung dengan hasil kesepakatan di muka. Umumnya, pihak nasabah mengambil sistem ini untuk membiayai umrah atau pendidikan. Pendidikan di sini bisa SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

2. Penghimpunan Dana

A. Investasi (Mudharabah)

 border=

Dengan skema perbankan syariah Mudharabah, nasabah akan menginvestasikan penghasilannya kepada pihak bank untuk dikelola. Jadi, dalam skema ini, pihak bank berperan sebagai pengelola investasi bagi nasabah untuk kepentingan bisnis yang menguntungkan. Upah yang didapat oleh pihak bank adalah dari hasil keuntungan investasi tersebut yang dilakukan dengan cara bagi hasil. Besar hasil yang didapatkan oleh pihak bank dari total keuntungan disesuaikan dengan kesepakatan yang telah dibuat pihak bank dan nasabah di muka.

B. Titipan (Wadiah)

Dengan skema perbankan syariah Wadiah, nasabah akan menitipkan penghasilannya kepada pihak bank yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan keperluan dari pihak bank selama penitipan. Namun, saat nasabah ingin mengambil penghasilannya yang selama ini dititipkan, pihak bank wajib memberikan jumlah yang utuh sesuai dana yang dititipkan. Jadi, saat hendak diambil, pihak bank harus langsung mengganti jumlah uang yang telah dimanfaatkan.
Perbedaan Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional Lainnya.

 border=

Seperti yang sempat sedikit dibahas sebelumnya, perbedaan utama antara perbankan syariah dan perbankan konvensional adalah pada dasar sistem operasionalnya. Bank konvensional menerapkan sistem bunga sedangkan bank syariah menerapkan sistem bagi hasil. Perbedaan lain yang cukup mendasar antara kedua perbankan ini adalah pada landasan hukumnya. Bank syariah menggunakan kombinasi hukum islam (Al Qur`an & as Sunnah) dan hukum positif.

Sedangkan, bank konvensional menggunakan hukum positif saja. Beberapa perbedaan lainnya adalah bank syariah memiliki Dewan Pengawas Syariah, penyaluran dananya sudah terbukti halal, akuntansi dalam cash basis dan accrual, skema produknya dalam bentuk syariah dan dana masyarakat sebagai titipan. Sedangkan, bank konvensional tidak memiliki Dewan Pengawas Syariah, penyalurannya tidak jelas halal haramnya, akuntansi dalam accrual saja, skema produknya dalam bunga dan dana masyarakat sebagai simpanan yang harus dibayar.

Itulah sedikit informasi mengenai perkembangan perbankan syariah di Indonesia beserta beberapa perbedaannya dengan bank konvensional. Setelah mengetahui lebih dalam mengenai sistem syariah yang ada pada bank, semua keputusan kembali lagi kepada kondisi, keinginan, dan kebutuhan Anda sebagai calon nasabah.

Dari segi pembiayaan, memang bank syariah lebih unggul karena tidak adanya tambahan bunga yang terkadang memberatkan. Tetapi, dari segi efektivitas, bank konvensional lebih banyak ditemui di berbagai wilayah sehingga memudahkan proses transaksi. Pertimbangkan dengan baik sebelum menentukan bank yang dituju. Semoga bermanfaat.